Yole Vivasye: Perempuan Tangguh Pantang Menyerah

Perjuangan seorang ibu tidaklah mudah untuk membesarkan anak-anaknya. Sejak seorang anak ada di dalam kandungan, seorang ibu sudah memulai perjuangannya. Ibu menjaga kesehatannya, menghindari makanan yang mungkin disukai namun tidak baik untuk janin, merasakan sakit yang luar biasa saat persalaninan. Namun seorang ibu tidak menyerah sampai disitu. Ibu merawat bayinya dengan baik. Ibu menjaga agar tumbuh kembangnya sempurna sehingga masa-masa tumbuh kembangnya sesuai dengan tahapan umur yang seharusnya. Bagaimana jika ternyata yang terjadi tidak demikian. Seorang ibu menyadari bahwa ada yang berbeda dari tumbuh kembang anaknya. Hal ini yang terjadi pada ibu Yole Vivasye. Ibu Yole Vivasye adalah ibu dari tiga orang anak. Anak beliau yang paling bungsu mengalami gangguan pada pendengarannya dan telat bicara. Mari kita simak kisah perjuangan beliau dalam membesarkan anaknya yang bungsu.

Ibu, boleh sedikit diceritakan apa yang terjadi pada anak Ibu?

Pada usia 3 tahun, anak saya belum dapat berbicara layaknya anak se usia nya. Hal ini jelas terlihat diantara anak-anak sebayanya karena beberapa tetangga tempat saya tinggal mempunyai anak yang seusia anak saya. Anak-anak itu sudah lancar berbicara.

Apa yang Ibu rasakan ketika Ibu tahu bahwa ada yang berbeda dari anak Ibu?

Pertama kali yang saya rasakan ada perasaan sedih. Setelah itu perasaan yang bercampur antara sedih, minder, malu dan tak berdaya.

Apa saja yang Ibu lakukan setelah mengetahui apa yang terjadi pada anak Ibu?

Setelah saya renungkan, saya memutuskan tidak dapat berdiam diri saja. Saya membawa anak saya berkonsultasi ke dokter. Pertama saya ke dokter THT karena menurut saya dokter ini berhubungan erat dengan telinga dan mulut. Bahkan saya tidak hanya memeriksakan nya ke satu dokter saja. Beberapa dokter yang saya temui memberikan hasil pemeriksaannya. Secara umum hasilnya sungguh mengecewakan. Tak satupun dokter mampu menjamin anak saya pasti dapat bicara. Setelah saya menetapkan dokteryang mana saja yang harus saya lanjutkan berkonsultasi, banyak pemeriksaan yang harus dijalani oleh anak saya. Dari telinga dengan tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry), EEG, CT Scan. Bahkan dilakukan terapi  wicara 2x dalam seminggu. Namun saya tidak bergantung pada pemeriksaan 2x itu saja. Saya melakukan terapi di rumah. Bahan terapi adalah yang sudah dilakukan di tempat terapi. Saya mengulangi di rumah bukan hanya 1 atau 2 jam melainkan hampir 8 jam sehari. Saat anak saya menginjak usia 4 tahun, dimana saatnya duduk di kelas TK, maka saya pun juga mendaftarkan anak saya di TK yang sama dengan tempat kakak-kakaknya sekolah. Sama seperti yang dilakukan oleh ibu lainnya saat anaknya menginjak usia 4 tahun.

Ibu Yole bersama keluarga
Ibu Yole bersama keluarga, terlihat Steven tersenyum bahagia berada di tengah keluarga

Mengapa Ibu tetap mendaftarkan anak Ibu di sekolah biasa? Apakah anak Ibu bisa mengikuti pelajarannya?

Sebenarnya tidak ada seorang dokter pun yang menganjurkan anak saya masuk sekolah biasa. Bahkan dokter BERA sudah mengatakan pada diagnosa awal bahwa jika anak saya sudah waktunya bersekolah maka sekolahnya SLB (Sekolah Luar Biasa). Namun, saya tidak berniat untuk menyekolahkannya ke sekolah SLB. Saya ingin anak saya ini bersekolah seperti kakak-kakaknya. Sebenarnya anak saya tidak dapat mengikuti pelajaran dengan proses normal. Sempat timbul rasa pesimis saya, apakah anak saya mampu mengikuti cara belajar seperti ini? Sudah berulangkali saya berpikir seperti itu, apakah ia mampu mengikuti pelajaran? Sehingga langkah selanjutnya sebagai bentuk usaha saya agar ia dapat mengikuti pelajaran adalah belajar pelajaran yang akan dipelajari keesokan harinya. Waktu belajar bisa hingga jam 10 malam. Selain belajar setiap hari, jika sekolah libur Nasional, pasti digunakan untuk belajar mempersiapkan pelajaran-pelajaran di hari ke depan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit ke hulu, bersenang-senang kemudian. Pantang menyerah!

Steven dan kakak-kakaknya
Steven mengikuti jejak kakak-kakaknya kuliah di Universitas Indonesia

Bagaimana kabar anak Ibu sekarang?

Anak saya sudah menjadi Sarjana dari Universitas Indonesia dan sudah bekerja. Sekarang anak saya sudah mandiri. Saya ingin sedikit cerita, kalau dulu sebelum masuk kuliah di UI, anak saya kurang percaya diri karena peristiwa masa lalu yang terus membayang. Namun saya terus mendorongnya agar mencoba dulu untuk ikut ujian masuk UI. Sampai akhirnya anak saya mau untuk mencoba ikut ujian masuk UI dan hasilnya membuat kami sekeluarga bahagia dan bangga. Seperti pepatah yang selalu saya ingat ‘Ora et Labora’ (berdoa dan bekerja). Hal ini juga yang saya terapkan ketika dulu anak saya masih belum dapat berbicara.

Steven Sarjana
Steven Yehezkiel Sinaga, S.Hum

Bagaimana perasaan Ibu setelah melewati semuanya bahkan sekarang anak Ibu sudah bekerja?

Tentu…sangat bahagia. Saya juga sangat bangga sama anak saya. Dia sudah membuktikan bahwa perjuangan kami semasa dia kecil sampai sekarang tidak lah sia-sia namun membuahkan hasil yang jauh dari apa yang kami berdua pikirkan.

Bu Yole dan Steven
Bu Yole dan Steven

Apa pesan Ibu untuk para Ibu muda yang sedang mengalami kondisi yang sama seperti yang Ibu rasakan dulu?

Berjuang keluar dari keterlambatan tumbuh kembang anak tanpa kenal lelah, putus asa, tidak malu bertanya. Ibu harus terlibat aktif tidak menyerahkan anaknya kepada baby sitter atau pembantu.

buku ayo bicaralah nak

Ibu Yole Vivasye juga menuliskan kisah lengkap perjuangan beliau dengan anak bungsunya dalam sebuah buku dengan judul โ€˜Ayo, Bicaralah, Nak!โ€™. Jika berminat bisa menghubungi saya.

NB: ini adalah wawancara eksklusif saya dengan ibu mertua saya. Perjuangan beliau juga mengingatkan saya pada ibu saya. Tidak mudah menjadi seorang ibu. Tapi saya percaya bahwa Tuhan selalu memberikan kekuatan pada seorang ibu untuk membesarkan anak-anaknya sehingga ibu menjadi perempuan tangguh dan pantang menyerah.

Selamat hari Ibu.

You may also enjoy:

Post a Comment