Toleransi Pro-eksistensi

Toleransi? Kenapa bahas toleransi lagi? Kan udah pernah dipelajari di sekolah, dari sejak SD bahkan. Orang Indonesia sudah paham lah tentang hal ini. Apalagi negara kita punya semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Nah, kalau sudah pernah dipelajari kenapa belakangan ini sepertinya sebagian masyarakat Indonesia lupa akan hal ini yah? Dari SD juga kita sudah belajar kalau bangsa kita ini bangsa yang majemuk. Dari dulu bangsa kita sudah dikenal dengan keanekaragaman dan keunikannya. Harusnya sih kata toleransi sudah tidak asing lagi. Tapi ternyata toleransi yang sebagian masyarakat Indonesia terapkan sekarang ini adalah toleransi yang co-eksistensi bukan yang pro-eksistensi. Eits, apa lagi itu? Saya tahu tentang ini juga setelah saya nonton YouTube yang di-shareΒ oleh Abenk Alter. Kalau belum nonton, nonton yah dibawah ini biar ngerti maksudnya apa. Kamu juga bisa googling kok untuk lebih mengerti maksudnya apa.

Saya juga semakin mengerti maksud dari toleransi pro-eksistensi ketika tinggal di London. Disini saya ingin bicara sedikit perihal toleransi pro-eksistensi dalam hal agama yah. Karena memang hal agama ini merupakan isu yang paling sensitif di Indonesia. Selama disini, saya pelajari orang-orang disini sangat terbuka ketika bicara soal agama. Bahkan di jalanan bisa ada tuh orang yang sharingΒ tentang agamanya dan tidak ada yang protes, malah terbuka sekali jika ada yang ingin bertanya.

Sebentar saya nggak mau bilang kata agama, karena itu terlalu mengkotak-kotakan kepercayaan. Padahal kan hubungan kita sama Tuhan itu adalah hal yang pribadi. Okay, sekarang saya sebut sebagai kepercayaan (beliefs).

Disini, baik gereja maupun mesjid terbuka untuk umum apabila ada yang mau mengenal lebih jauh kepercayaan tersebut. Perdebatan bisa saja terjadi, tapi bukan berarti setelahnya jadi musuhan. Malah bisa saja setelahnya malah pulang bareng atau makan bareng. Balik lagi kepercayaan itu sangat pribadi sekali kalau menurut saya. Makanya kalau di barat bisa saja satu keluarga tapi kepercayaannya beda-beda. Setahu saya mereka saling tukar pikiran tapi ya balik lagi kan ini adalah persoalan hubungan pribadi dengan Tuhan.

Saya juga sekarang belajar tidak ingin terlalu mengotak-kotakan berdasarkan agama. Karena hasil observasi saya belakangan ini, belum tentu seseorang beragama A tapi punya kepercayaan A, hati seseorang tidak ada yang tahu. Besarnya hubungan seseorang dengan Tuhan hanya masing-masing yang tahu. Makanya ada yang menilai orang dengan agama tertentu terlalu garis keras lah. Atau malah kalau nggak ikutan garis keras dibilang kafir atau dibilang “lo nggak ngerti isi kitab lo”. Jangan saling menghakimi. Biar lah Tuhan yang menjadi hakim agung untuk dunia ini.

Akhir kata, di dunia barat saja bisa kok hidup damai dan saling berdampingan dengan menerapkan toleransi pro-eksistensi, kenapa kita tidak. Yuk, kita sama-sama ingat kembali pelajaran PMP, PPKn, atau apa lah yang disebutnya sekarang (ketahuan deh generasi angkatan berapa. hahaha) untuk hidup damai berdampingan satu sama lain, menjadi agen pembawa damai dengan menerapkan toleransi pro-eksistensi.

Saya ingin mengutip kata-kata dari penulis/pastorΒ favorit saya,

Tolerance isn’t about not having beliefs. It’s about how your beliefs lead you to treat people who disagree with you.- Timothy Keller

Peace and God bless our country.

XOXO. RVC

You may also enjoy:

3 Comments

Post a Comment