Saint Petersburg Hari #2 – Jalan Kaki Sampai Pegel

Pagi-pagi sekitar jam 7, alarm handphone suami saya berbunyi. Bunyinya lumayan mengganggu. Apalagi kemaren masih belum terbiasa dengan jalan kaki seharian dalam kondisi yang cukup dingin. Jadi rasa badan yang pegel-pegel itu masih tersisa. Tapi nggak mungkin kan ke Saint Petersburg cuma ngendon di hotel aja. Akhirnya dengan sedikit berat badan (bukan berat hati, kalo hati sih pengen jalan-jalan. Hehehe) saya bangun duluan dan siap-siap.

Hari kedua ini baju yang kami pakai lebih lengkap dari kemaren. Mulai dari double sweater dan double kaos kaki. I wonder bagaimana orang Rusia bisa tahan di saat musim dingin yah?

Saya juga nggak lupa bawa cemilan dan terutama air mineral biar nggak dehidrasi. Apalagi kami mau jalan kaki seharian dan perjalanan hari ini lebih jauh daripada kemaren. Batre kamera juga sudah full dicharge. Ya pokoknya, semua sudah disiapkan deh.

***

Destinasi pertama kami adalah Palace Square. Mumpung masih pagi dan matahari juga sudah bersinar terang. Kami juga berharap masih sepi juga kalau pagi-pagi.

Sesuai dugaan, Palace Square masih sepi, belum ada turis yang wara wiri. Jadi kami juga dengan leluasa foto-foto suasana Palace Square.

Saya seneng banget hari kedua ini cuacanya cerah. Meskipun dingin tapi kalo cuaca cerah begini kan enak buat jalan-jalan. Dan dibandingkan hari kemarennya, kaki juga nggak sedingin kemaren soalnya nggak injek es-es lagi.

Setelah foto-foto di Palace Square, kami lanjut dulu ke St. Isaac’s Cathedral. Sesampainya di St. Isaac’s Cathedral, saya agak menyayangkan tampilan karena ada bagian atas kubahnya yang sedang dalam perbaikan. Jadinya kurang kece aja gitu penampakannya. Oh iya, katedral ini mengingatkan saya juga pada katedral St. Paul yang ada di London. Jadi inget, saya saja belum pernah masuk kesana.

Sambil menunggu pintu masuk dibuka, kami foto-foto dulu di depan katedralnya. Setelah saya lihat beberapa turis sudah mulai bisa masuk, kami pun juga langsung beli tiket masuk. Harga tiket masuknya sebesar 250 Rub. Salahnya kami waktu itu kami belinya di mesin tiket. Padahal kalo beli di loketnya langsung, seperti biasanya Simson pasti dapat diskon mahasiswa.

“Wow!”

Itu yang langsung terlintas di pikiran saya ketika masuk katedral ini. Besar banget! lukisannya, detail ukirannya, dindingnya yang terbuat dari marmer. Keren deh! Meskipun sudah sekian kalinya masuk ke katedral di Rusia tapi setiap interior katedral berbeda-beda. Makanya penasaran terus untuk masuk ke dalamnya. Sebenernya ada juga masjid yang luar dan interiornya nggak kalah keren dari katedral-katedral ini. Sayangnya letaknya cukup jauh dari pusat kota dan kami tak sempat kesana jadi cuma bisa menikmatinya dari foto instagram orang saja.


Perjalanan kami lanjutkan ke Hermitage Museum. Kala itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 2 siang. Setelah mengantri dan sampai di depan loket tiket. Mbak loketnya bilang total yang harus dibayar 600 Rub. Kaget. Soalnya kami kira cuma 300 Rub. Akhirnya kami mundur dan mikir-mikir dulu. Kenapa? Soalnya udah siang, terus museumnya tutup jam 6 sore, masih ada list tempat lain yang perlu kami kunjungi.

Ketika kami cek lagi ke informasinya, ternyata museum ini buka sampai jam 9 kalo hari Jumat. Pas banget besoknya hari Jumat. Akhirnya kami memutuskan besoknya akan dikhususkan untuk ke museum.

Can you spot where am I in this pic?

Kamu lanjut jalan kaki ke landmark yang berikutnya yaitu Peter and Paul Fortress. Benteng ini berada di sebrang pulau. Sebenarnya biar tidak capek bisa saja naik bis atau tram tapi setelah mengkalkulasi lama waktu tempuhnya ternyata sama saja akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki saja.

Peter and Paul Fortress ini adalah benteng pertama yang ditemukan oleh Peter the Great di tahun 1703. Saat ini telah menjadi salah satu museum di Saint Petersburg. Di dalam benteng terdapat katedral yang memiliki menara yang menjulang sangat tinggi dengan tinggi menara 122.5 m dan dicatat sebagai katedral dengan menara tertinggi di Saint Petersburg. Katedral ini bernama Peter and Paul Cathedral. Bahkan dari sebrang pulau sudah terlihat menarik. Ditambah lagi warna katedral yang unik dengan warna kuning terang. Cukup mencolok kan?

Biaya tiket masuk ke benteng ini terbagi atas beberapa tempat. Kami memilih untuk masuk katedralnya saja karena memang yang menarik hati kami dari awal ingin masuk ke katedral. Di dalam katedral juga terdapat makam keluarga kerajaan Rusia dan juga sejarahnya. Harga tiket masuk untuk ke katedralnya saja sebesar 450 Rub. Sementara untuk mahasiswa sebesar 250 Rub. Cukup mahal menurut saya dari standar tiket masuk katedral lainnya.

Dengan harga sebesar itu tentunya saya juga memiliki ekspektasi yang cukup tinggi. Tapi ternyata katedral ini tidak begitu besar. Memang dalamnya bagus sih. Tapi bagi saya kok kesilauan yah. Melihat semuanya penuh dengan emas. Kamu bisa nilai sendiri dari foto saya di bawah ini.

Kami melanjutkan kembali perjalanan kami menuju Kuntskamera sambil melewati Rostral Columns. Kunstkamera ini adalah museum antropologi. Saya agak lupa harga tiket masuknya. Seingat saya tidak terlalu mahal kok. Masih lebih murah daripada masuk katedral yang sebelumnya.

Kesan pertama saya ketika masuk ke Kunstkamera ini adalah jadul. Yup! Beda sama museum-museum di eropa yang pernah saya kunjungi. Biasanya museum di eropa sudah modern. Sementara ini terasa jadul mungkin karena agak gelap ruangannya dan lemari yang digunakan terbuat dari kayu. Masih dengan gaya lama.

Saya bangga juga ketika tahu bahwa Indonesia juga menjadi salah satu bagian di dalam museum ini. Saya menemukan beberapa benda khas batak. Suami saya yang orang batak langsung minta foto di depan rumah adat batak karo. Selain batak ada juga jawa tapi cuma sedikit.

Rumah adat batak karo
Kuntskamera dari sebrang pulau

Hari itu kami sudah cukup lelah karena benar-benar jalan kaki seharian. Perjalanannya lumayan jauh pula. Makanya perhentian terakhir kami di Bronze Horseman. Sebenarnya letaknya persis di belakang St. Isaac’s Cathedral. Cuma kami nggak liat kalo ternyata memang ada di belakangnya.

Dari situ kami juga bisa melihat ada beberapa orang ada di atas St. Isaac’s Cathedral. Jadi kami lupa naik ke atas. Akhirnya kami putuskan keesokan harinya balik lagi ke katedral supaya bisa lihat view Saint Petersburg dari atas.

Perjalanan yang cukup melelahkan tapi memuaskan juga. Kaki saya sampai pegel-pegel dan mulai lecet-lecet juga padahal pakai sneakers lho. Saya kasih gambaran di foto bawah ini perjalanan saya dan suami di hari kedua ini.

Sekian cerita dari saya. Sampai di post berikutnya yah!

XOXO. RVC

You may also enjoy:

4 Comments

  1. aduh cakep banget gereja itu. bisa banyangin megahnya.Rusia emang gila arsitek gerejanya ya. aku penggila wisata gereja soalnya. arsitek dan sejarahnya bagus bagus. makin pengen ke rusia deh. museum itu keren banget ada rumah batak karo. suamimu batak ya Rie. sama dengan aku.

    1. Yuk kak ke Rusia…hehehee..
      Wah boru apa kak? Suamiku batak toba tapi, aku pun jadi officially batak sejak menikah hahaha

    1. Kalo aku turunan jawa manado kak. Aku dikasih marga Siahaan, tapi masih belajar nih kak tentang budaya batak. 😀

Post a Comment