Penyesalan

Tak terasa sudah hampir 3 bulan saya tidak pernah membuka blog saya. Bahkan saya sampai harus reset ulang password saya karena saya lupa. Ada beberapa kejadian yang membuat saya vakum sementara dari dunia blogging. Judul post ini bisa dibilang mewakili perasaan yang saya miliki selama tidak menulis bahkan tidak membuka blog saya sama sekali.

Saya pernah menyesal ketika mengambil sebuah pekerjaan yang ternyata menimbulkan masalah pada diriku sendiri. Tidak hanya pada diriku saja tetapi juga berdampak pada rumah tangga saya. Pekerjaan ini membuat liburan saya bersama suami saya yang pada saat itu ke Stockholm dan Copenhagen (kamu jadi bisa mengerti kan mengapa cerita liburan saya kesana belum ada di blog ini) tidak tenang. Beberapa kali saya diganggu oleh pekerjaan saya sehingga suami saya pun tidak nyaman. Padahal liburan saat itu dalam rangka merayakan anniversary kami yang ketiga. Tidak sampai disini. Selang seminggu kami sudah punya rencana untuk liburan ke Italia selama seminggu melewati beberapa kota di Italia. Pekerjaan ini pun masih menghantuiku. Beberapa kali saya juga harus telfon ke UK. Rasanya tidak menikmati perjalanan liburan ini. Apesnya lagi di hari ke-5 kami, tas ransel saya yang berisi barang berharga (buat saya) yaitu kamera dan handphone hilang dicuri orang karena kelalaian saya yang kurang mmperhatikan tas saya sendiri. Untungnya segala dokumen, ID, passport, kartu atm ada di suami saya. Ini lah puncaknya. Semua keinginan untuk jalan-jalan, fotografi, menulis blog hilang semuanya. Bukan hanya masalah kamera dan handphone tapi isi di dalamnya. Memori jalan-jalan kami di Italia yang kami rekam dalam bentuk foto hilang sudah. Hanya penyesalan yang datang.

Namun penyesalan itu membuat saya berpikir apa sesungguhnya arti hidup ini.

Kalau dipikir-pikir lagi, saya mengambil pekerjaan tersebut hanya berorientasi pada fee yang didapat padahal jika dibandingkan dengan effort dan segala kejadian yang saya alami rasanya tidak sebanding. Bahkan saya kembalikan lagi fee nya karena buat saya tidak membawa berkat. Orientasi saya akan uang malah menjadi celaka.

Kalau dipikir-pikir juga, sebelum kejadian kecurian tas, orientasi saya akan jalan-jalan dan fotografi hanya pada indahnya foto-foto di Instagram dan blog agar disuka oleh orang banyak. Sombong dan haus akan pujian, itu lah saya saat itu. Sungguh kejadian ini mengingatkan saya bahwa foto-foto dan tulisan yang ada di sosial media semua hanya bersifat sementara. Saya hanya lah butiran debu di dunia ini dan barang-barang yang saya miliki di dunia ini hanya sementara.

Kejadian ini membuat saya berpikir kembali tentang hidup ini. Hidup saya di dunia ini dan relasi saya dengan sesama terutama dengan suami saya sebagai pasangan hidup saya.

Pada akhirnya bukan lagi penyesalan namun rasa syukur yang timbul ketika saya melihat secara lebih luas. Saya bersyukur kejadian ini membuat saya semakin mendekatkan diri saya kepada Tuhan Sang Pencipta. Saya menjadi semakin mengerti arti hidup ini. Saya menjadi semakin mengerti tujuan hidup ini. Ketika saya mendekatkan diri dan menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa maka hati saya menjadi lebih tenang, saya tidak lagi merasa kurang sehingga harus mencari uang, saya juga tidak lagi haus akan pujian dalam bentuk “like” atau “love” yang ada di sosial media.

Let it flow. Ora et Labora.

Hidup untuk dijalani dengan damai dan dinikmati dengan sukacita namun tidak lupa harus selalu berusaha dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga pada akhirnya kembali lagi bisa menikmati hidup ini dengan rasa damai dan sukacita.

Menjadi pelayan yang sederhana itu lah keinginan saya dalam hidup ini.

God Bless.

XOXO. RVC

You may also enjoy:

2 Comments

Post a Comment