Paris Hari #2 – Dari Bawah Tanah Sampai Atas Bukit di Paris

Sacre Coeur

Di hari kedua ini, kami bangun kesiangan. Niatnya sih mau berangkat pagi-pagi, mungkin karena efek kecapekan kemaren. Jadi lah kammi berangkat sekitar jam 10. Sebelum ke pusat kota Paris, kami mampir dulu ke supermarket yang ada persis di sebelah hostel kami. Disana kami beli makanan untuk cemilan dan juga sandwich untuk makan siang. Berhubung memang kami lebih hemat kalau untuk urusan makanan.

Setelah beli segala cemilan, makanan dan minuman, kami langsung ke destinasi pertama kami yaitu Place des Vosges. Tempat ini adalah taman kecil yang dikeliling oleh gedung berwarna orange bata. Tempat ini sangat indah apalagi dinikmati ketika cuaca cerah seperti saat itu. Sudah mulai banyak orang yang bersantai sekedar menikmati matahari atau makan sandwich disana.

Setelah menikmati suasana taman sambil makan cemilan. Kami langsung ke tempat berikutnya. Tempat berikutnya harus ditempuh dengan menggunakan metro karena cukup jauh dari Place des Vosges. Kami naik melalui stasiun Bastille. Sebenarnya, Bastille adalah salah satu landmarknya Paris juga cuma saat itu lagi dibenerin jadi kurang indah kalau difoto. Tempat berikutnya  yaitu Hôtel de Ville. Ini adalah city hall-nya Paris. Gedungnya bagus. Penuh dengan detail ukiran di setiap sudutnya. Halaman depannya juga luas banget. Anak-anak pasti seneng banget lari-larian disini. 

Tidak jauh dari Hotel de Ville, hanya sekitar 5-10 menit jalan kaki, kamu bisa mengunjungi Katedral Notre Dame. Cukup nyebrang jembatan saja. Enaknya disini, kalau sudah ada di pusat kota, semua landmarknya terasa dekat-dekat. Di sekitar Notre Dame banyak kafe dan juga ada beberapa toko souvenir. Saat sudah sampai di depan Notre Dame, saya cari point zero-nya Paris. Penanda bahwa kami berada tepat di tengah-tengah kota Paris. Konon katanya kalau injek itu bisa balik lagi ke Paris.

Kafe yang terletak di samping Notre Dame

Kami sedikit memutari gedung katedral ini untuk melihat sudut lain dari gedung ini. Karena kalau dari depan sudah penuh dengan turis yang foto-foto. Dari sisi samping katedral dekat sungai Seine, kami menemukan spot cantik yang tidak terlalu ramai. Sehingga kami pun bisa lebih leluasa untuk foto. Bahkan kami menggunakan tripod untuk foto.

Kapal yang mengitari sungai Seine yang penuh dengan turis

Setelah itu, kami masuk ke dalam katedralnya. Untuk masuk ke dalam katedral, tidak perlu bayar hanya saja cukup panjang antriannya karena ada pemeriksaan tas sebelum masuk. Tapi untuk naik sampai ke atas katedral harus bayar. Saya tidak tahu untuk harganya karena saya memang tidak tertarik untuk naik ke atas. Menurut saya sih di dalam katedralnya tidak semenarik detail bangunan di luarnya. Makanya saya pun tidak begitu berlama-lama di dalam katedralnya.

Setelah puas menikmati katedral Notre Dame dan sekitarnya, kami menuju destinasi berikutnya yaitu melihat bawah tanah Paris tapi bukan metro yah. Kalau yang ini sih suami saya yang mau. Suami saya ingin ke Catacombs. Ini adalah tempat yang penuh dengan tengkorak manusia yang ditata rapi. Mungkin seperti yang ada di Toraja yah. Kalau saya sebenarnya agak takut sih. Tapi yaudah deh harus ngalah aja deh sama suami.

Untuk masuk ke Catacombs, antriannya panjang banget. Sampe pegel deh nungguinnya. Kami antri sampai kira-kira 2 jam. Tapi untungnya juga ada satu teman kami yang tinggal di Paris. Jadi kami ngobrol bertiga dan nggak terlalu terasa kalau sudah lewat 2 jam. Harga masuknya 12 euro, tapi kalau kamu student di Paris masih bisa dapat diskon. Untuk turun ke bawah, kami harus melewati kira-kira 100 anak tangga. Yang ada dipikiran saya saat turun adalah turun sih masih gampang, yang capek adalah naiknya. Ketika sudah sampai di bawah tanah, kami melewati lorong-lorong kecil. Saya sendiri sih takut, jadi jalannya cepet-cepet aja biar nggak ketinggalan sama rombongan turis lainnya.

Setelah berjalan kira-kira 1,5 km di bawah tanah. Sekarang kami ingin melihat keindahan kota Paris dari atas bukit. Jadi destinasi kami berikutnya adalah gereja Basilica Sacré-Coeur. Ini adalah gereja di atas bukit Montmarte. Ada dua pilihan cara untuk naik ke atas bukit. Bisa menaikki ratusan tangga (lumayan yah kalau yang mau kurus. Hihihi), bisa juga naik kereta yang disebut Funiculaire yaitu semacam lift yang memanjat ke atas bukit. Karena hari sudah malam dan tenaga kami juga sudah tinggal sisa-sisa saja, makanya kami lebih memilih naik funiculaire saja. Kami tidak perlu bayar lagi, karena bisa menggunakan tiket harian transport yang kami gunakan untuk hari itu.

Saya dan Talitha di dalam funiculaire

Meskipun hari sudah menjelang malam, namun tetap ramai dengan turis-turis yang ingin menikmati pemandangan Paris dari atas. Ketika di atas rasanya puas sekali bisa menikmati kota Paris dari atas bukit. Saya juga bisa melihat menara Eiffel meskipun tidak terlihat begitu jelas karena tertutup ranting-ranting pohon. Saya juga menyempatkan diri untuk masuk ke dalam gerejanya. Saya sendiri lebih suka interior di dalam gereja ini dibandingkan Notre Dame. Ketika masuk ke dalam tidak boleh berisik karena memang ada beberapa juga yang sedang berdoa.

Kalau kesini, harus hati-hati yah. Barang bawaan harus dijaga. Selain itu hati-hati sama yang jualan. Kadang mereka suka maksa. Waktu itu ada kejadian yang bikin deg-degan juga. Jadi ada pedagang yang menawarkan kami gelang-gelangan (yah macam di Indonesia juga sih), tapi sifatnya maksa. Waktu saya melewati mereka saya bilang tidak dan posisi tangan saya di bawah sementara suami saya malah mengatakan tidak dengan melambaikan tangannya. Akhirnya malah dipegang sama pedagangnya mau dipakein langsung gelangnya. Ketika saya ngeh kalau suami saya dipaksa begitu langsung saja saya tarik tangannya. Eh, pedagangnya malah bete karena merasa kami udah rusakin gelang. Tapi kami bodo amat langsung kabur saja. Ternyata kata Talitha juga memang sering mereka maksa seperti itu, biasanya kalau sudah dipakein mereka minta 5 euro. Pokoknya kalau di daerah turis, kamu harus hati-hati sama pedagang-pedagang disitu deh.

Setelah itu, kami menyempatkan diri juga untuk melihat gedung Opera. Ketika saya keluar dari metro memang terasa megah sekali gedungnya. Penuh dengan detail ukiran dan patung di tiap sisi bangunannya. 

Karena keesokan harinya kami harus berangkat ke Brussels, makanya kami menyempatkan diri sekali lagi ke kawasan Trocadero dimana kami bisa melihat menara Eiffel secara jelas. Ketika sampai, saya awalnya pikir akan sepi karena pada saat itu sudah pukul 9 malam. Tapi ternyata tidak sama sekali justru tetap saja ramai sama seperti siang hari. Hari itu kami tutup dengan menikmati crepe ala Paris yang dijual seharga 4 euro dan duduk-duduk santai melihat pemandangan menara Eiffel dan bulan purnama. Cantik.

Thanks to Talitha yang sudah nemenin kami jalan-jalan sampai malam.

Perjalanan kami selanjutnya menuju kota Brussels. Stay tune 🙂

XOXO. RVC

 

 

You may also enjoy:

3 Comments

Post a Comment