‘Mirror, Mirror, on the Wall’

Apa yang ada di benak kamu ketika membaca judul post ini? Snow White? The Queen? The Magic Mirror? 

Sedikit mengingatkan kalau itu adalah bagian dialog dari The Queen kepada The Magic Mirror. Kalau kamu ingat masih ada lanjutan dari dialog itu yaitu ‘who’s the fairest of them all?’ And do you remember that The Queen expectation is not the same as the answer of Magic Mirror. 

Most of the time, tanpa disadari kita sering berlaku seperti Sang Ratu. Kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain. Ekspektasi kita adalah kita yang terbaik dibandingkan orang lain. Tapi nyatanya tidak begitu. Ketika kita mulai membandingkan dengan orang lain kita tidak pernah puas akan diri kita. Kita mulai merasa banyak yang kurang, harusnya begitu, kenapa tidak seperti itu, dsb. Seakan-akan kita membuat list kekurangan kita yang tidak ada habisnya sampai akhirnya kita pun mulai berandai-andai. Andaikan saya cantik seperti dia, andaikan saya kurus seperti dia, andaikan saya punya banyak uang seperti dia, andaikan saya punya pacar, andaikan saya sudah menikah, andaikan saya…. bisa panjang sekali listnya. 

Manusia tidak pernah puas. 
Saya sendiri masih sering merasa seperti ini. Kenapa? Karena memang kita ini manusia. Manusia itu lemah. Gampang sekali ditipudaya. Apalagi dengan maraknya sosmed, semakin mudah kita merasa banyak yang kurang dibandingkan dengan kehidupan orang lain. Kita lupa kata “bersyukur“. 

Ketika saya lemah dan mulai membandingkan diri dengan yang lain, dalam hati saya berdoa memohon kekuatan Tuhan supaya saya ingat kata “bersyukur“. 

Saya juga kembali diingatkan melalui tulisan dari @mozdeb disini

Promote gratitude instead of competition 

Thank God saya lebih lega ketika mulai mengucapkan syukur. 

Thank God untuk tulisan mbak deborah. 

Thank God saya sudah berani untuk sharing ini. 

Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang merasakan hal yang sama. 

You may also enjoy:

2 Comments

Post a Comment