Gilang Widya Kartika: 3C (Cita-Cita, Cinta dan Curiosity)

Kalau kata orang tua saya, “tuntutlah ilmu setinggi langit!”. Sama seperti doa orang tua dari perempuan muda kali ini, Gilang Widya Kartika yang akrab dipanggil Gilang. Dibalik sebuah nama yang indah ada doa orang tua untuknya. Gilang Widya Kartika yang artinya bintangnya ilmu yang terang benderang. Walau nama ini terasa berat pada awalnya namun Gilang membuktikan namanya tidak hanya sekedar nama namun memiliki arti yang sesungguhnya.

Gilang Widya Kartika
Graduation MsC Brand Leadership

Saat ini Gilang tercatat sebagai mahasiswa S3 jurusan marketing di Lancaster University Management School di Inggris. Pendidikan S3 ini dapat ditempuhnya karena menerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari Pemerintah Indonesia. Selain sibuk dengan kegiatan pendidikan S3-nya, Gilang juga aktif sebagai tutor (asisten dosen) dalam bidang marketing untuk mahasiswa S1 di kampusnya. Kegiatannya tidak selalu berhubungan dengan akademis namun Gilang juga aktif di organisasi mahasiswa Indonesia di UK. Saat ini Gilang dipercayakan untuk menjadi managing director sekaligus penyiar untuk program RAPID (Radio PPI UK) di hari selasa dengan tema Selasa Nostalgia.

Gilang Widya Kartika
Batik day bersama teman-teman Indonesia di Lancaster University
Bersama teman-teman RAPID UK
Bersama teman-teman RAPID UK

Gilang menjadi sosok yang tepat untuk berbagi kisahnya di bulan ini karena rasa penasaran saya yang belum pernah saya tanyakan. Kali ini saya meminta Gilang untuk berbagi kisahnya sekaligus menjawab rasa penasaran saya. Saya kenal dengan Gilang ketika kami sama-sama menuntut pendidikan S2 di tahun 2012 yang lalu. Kala itu saya tahu bahwa Gilang merupakan lulusan S1 dari dua universitas yaitu Universitas Trisakti dan Universitas Bakrie.

Kali ini saya menanyakan alasannya dan Gilang menjawab bahwa dia ingin memberikan tantangan pada dirinya akibat kegagalannya saat tidak lulus SPMB. “Pada saat itu adalah tahap pendewasaan dimana aku sadar bahwa aku gagal tapi bukan berarti aku menghukum diri aku sendiri, menyalahkan orang lain dan akhirnya tidak bisa maju, aku move on.” kata Gilang. Gilang ingin membuktikan pada orang lain juga bahwa dia bukan orang yang gagal tapi orang yang bisa mensiasati keadaan. Sehingga akhirnya bisa setara dengan mereka yang kuliah di universitas negeri maupun universitas luar negeri.

Selain itu, dia juga membuktikan bahwa dia bisa mengelola waktunya dengan baik dan memiliki ilmu yang komprehensive. “Di Trisakti aku belajar secara teoritis, di Bakrie aku belajar secara praktikal” jelas Gilang. Perjuangan Gilang menempuh kuliah S1 di dua tempat pada akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Gilang berhasil mendapat predikat Cumlaude dari Universitas Bakrie. Sementara di Universitas Trisakti, Gilang berhasil lulus dengan IPK 3,42. Gilang tidak berhenti sampai disini, namun lanjut ke jenjang berikutnya yaitu S2.

Ketika menempuh pendidikan S2 bersama saya, saya menilai bahwa Gilang adalah sosok perempuan yang cerdas. Tidak heran juga apabila pendidikan S2 di MMUI didapatkan dengan predikat Cumlaude. Tidak lama setelah lulus, saya mendengar kabar bahwa Gilang menimba ilmu kembali. Kali ini bukan di dalam negeri tapi di luar negeri tepatnya di Inggris. Salah satu negara yang menjadi cita-cita Gilang untuk menuntut ilmu. Saya kira Gilang menempuh pendidikan S3, namun ternyata perempuan yang enerjik ini menempuh kembali pendidikan S2. Timbul lah pertanyaan, kenapa kali ini harus 2 kali lagi.

“Ternyata ijazahnya MMUI tidak bisa dengan mudah diterima oleh universitas-universitas untuk S3 di Inggris. Karena mereka lebih banyak mau terima untuk lulusan dengan gelar Msc. Akhirnya mereka menawarkan untuk sekolah riset lagi selama 9 bulan.” jelas Gilang.

Gilang widya kartika
Gilang dan teman-teman jurusan Brand Leadership

Pada akhirnya Gilang harus mengambil kembali S2 jurusan Brand Leadership untuk mendapatkan gelar Msc. Tak disangka-sangka bahwa kuliah ini menjadi momen terindah di hidupnya. Banyak ilmu yang didapatkannya baik dari teman-temannya, dosen ternama dan juga top brand consultant di Inggris. And lucky her, ia juga dibimbing oleh dosen terbaik di kampusnya. Gilang akhirnya bisa lulus dengan nilai tugas akhir yang “distinction”.

Gilang Widya Kartika
Kunjungan bersama teman-teman di Brand Leadership ke Google di UK

Setelah segala perjuangannya yang berliku-liku, Gilang tidak berhenti sampai disitu. Gilang selalu haus akan tantangan. Pada akhirnya Gilang pun memutuskan untuk melanjutkan kembali pendidikan ke jenjang S3. Ketika ditanyakan alasan sekolah hingga S3, Gilang menjawab “Ada 3C, Cita-cita, Cinta dan Curiosity“. Kalau kata Gilang, cita-citanya ingin menjadi dosen. “Aku ingin bisa berkontribusi kepada Indonesia, kepada teman-teman terdekat, dan kepada dunia marketing sendiri khususnya dunia branding.” jelas Gilang. Gilang juga berharap ketika nanti terjun di masyarakat, Gilang dapat membantu meyakinkan orang, menggunakan solusi yang ia tawarkan, mendengarkan apa yang ia ajarkan, dan termotivasi atas apa yang dia ceritakan melalui ilmu, pengalaman, dan jaringan yang ia miliki.

Sebenarnya cita-cita menjadi dosen tidak pernah terpikirkan olehnya sejak dulu. Berdasarkan pengalamannya, Gilang berpesan buat kamu yang sampai sekarang belum tahu mau jadi apa. “Jangan takut karena along the way dengan kekuatan-kekuatan, religiously speaking, Tuhan dan juga dengan kekuatan keinginan kalian untuk menjadi apa itu akhirnya kalian menemukan, inilah jalan hidup gue, inilah cita-cita gue”, seru Gilang.

Selain menjadi dosen, Gilang juga ingin menjadi penggerak merek. Gilang ingin membuat sebuah komunitas yang sadar akan pentingnya merek dan bagaimana pengembangannya. Dengan ilmu dan juga pengalamannya yang bergerak di bidang merek serta networking yang sedang dia bangun saat ini, Gilang berharap bisa mengajak banyak orang untuk bersama-sama dengannya berbagi ide, dan sama-sama memetakan masalah merek di Indonesia. Sesuai dengan hipotesa Gilang bahwa bila tidak disadari pentingnya merek dari sekarang, Indonesia bisa menjadi “Nation without a brand” dimana masyarakatnya sibuk membuat merek lokal, namun pasarnya tidak bisa menghargai dan kembali mengkonsumsi merek luar negeri. Dimana kebanyakan merek-merek besar sudah tidak dimiliki oleh perusahaan Indonesia lagi tapi oleh pihak asing. Dan yang parahnya, jiwa konsumtif masyarakat Indonesia ternyata tidak sepenuhnya bangga dan mau menggunakan merek lokal.

Dahulu ada program one village one product di Indonesia namun ternyata gagal, di Thailand pun program ini tidak bisa sukses. Namun uniknya di Jepang program ini sukses dan berhasil memberikan solusi kepada daerah-daerah di Jepang. Menurut Gilang, salah satu permasalahannya adalah karena program ini tidak dibarengi dengan kesadaran dan pengertian tentang pentingnya merek. Oleh karena itu, ketika selesai s3 nanti sembari menjadi dosen, Gilang ingin menggunakan modal yang ia miliki (ilmu, pengalaman, dan networking) untuk bisa bersama-sama rekan-rekan yang peduli dengan merek Indonesia untuk menggerakan lagi program one village one product, tentunya dengan meneliti lebih dulu hal apa saja yang membuat program ini gagal sebelumnya. Dan akhirnya bisa diluncurkan dengan program yang sudah diperbaiki, anggap saja seperti perangkat lunak yang sudah di-upgrade menjadi “Indonesian one village one product 2.0“. Mudah-mudahan melalui tulisan ini ada dari teman-teman yang mau bekerjasama dengan Gilang mewujudkan cita-citanya.

Gilang juga bercita-cita untuk mensejahterakan perempuan-perempuan di daerah tertinggal. Suatu hari Gilang ingin menjelajahi Indonesia, dari Aceh sampai Merauke. Gilang ingin memberikan penyuluhan tentang keluarga berencana. Gilang juga ingin melakukan pemberdayaan perempuan agar setiap perempuan memiliki keterampilan sehingga pada akhirnya bangsa Indonesia dapat lebih maju dan sejahtera.

Gilang Widya Kartika
Presentasi saat conference tentang tourism di Taiwan

Menurut Gilang, cinta lah yang membuat terus mencoba dan mendalami ilmu marketing ini, lebih khususnya tentang branding. “Saya ini adalah anak yang terkena syndrom ADHD (attention-deficit hyperactivity disorder), saya nggak bisa konsentrasi lebih dari 10 menit. Ini perjuangannya luar biasa, sampai nggak pernah belajar dari SD sampai SMA dan saya baru tahu kenapa, karena saya belum menemukan apa yang saya cintai.”, cerita Gilang. Gilang sempat cerita juga kalau ia selalu cari cara agar tidak selalu di kelas salah satunya dengan melakukan kegiatan yang positif seperti aktif di OSIS dan kepanitiaan sekolah waktu SMA.

Gilang Widya Kartika
Bersama pak Arief Rachman pakar pendidikan dan teman-teman di osis SMA Labschool

Kecintaan Gilang pada sebuah ilmu timbul ketika kuliah S1. Gilang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan seni dan desain tapi kadang-kadang dia juga merasa bosan sehingga dia juga suka dengan hal-hal yang berbau eksak. Sampai akhirnya menurut Gilang satu ilmu yang menggabungkan semuanya itu adalah ilmu marketing. Gilang sangat mencintai ilmu marketing. Hal ini yang membawa Gilang pada rasa “curiosity” terhadap ilmu ini.

“Kalau kata orang  curiosity can kill a cat, kalau kata aku curiosity can bring you to the highest level of your life.”, seru Gilang. Sejak kecil Gilang gemar memantau atau mengobservasi orang. Ia selalu bertanya-tanya tentang alasan seseorang membeli sesuatu atau memakai sesuatu. Sampai akhirnya melalui pendidikan, ia bisa menemukan jawabannya secara teoritis. Rasa keingintahuan Gilang juga semakin besar saat mengambil pendidikan S3 ini sehingga pada akhirnya tertuang dalam sebuah proposal penelitian yang fokus pada topik hubungan antara konsumen dengan merek.

Bagi Gilang mengenyam pendidikan itu penting. Ada 3 faktor yang menjadi alasannya. Pertama, Gilang tidak ingin namanya hanya sekedar nama saja namun dapat sungguh-sungguh diwujudkan dalam kehidupannya. Kedua, menurutnya sebagai perempuan harus menjadi agen perubahan bahkan di dalam ekosistem yang kecil seperti keluarga. Dan yang ketiga, “seorang Gilang ini kalau nggak sampai S3, nggak bisa jadi dosen dan nggak bisa berkontribusi terhadap majunya dunia merek Indonesia atau bahkan dunia.”, kata Gilang.

Mendengar cerita perjuangan Gilang yang tak mudah membuat saya bertanya apakah Gilang pernah merasa demotivasi. “Pernah banget, apalagi kalau abis bimbingan”, kata Gilang. Menurut Gilang demotivasi itu adalah hal yang lumrah. Gilang menemukan sebuah gambar yang bertuliskan bahwa dalam proses kreatif ada sebuah siklus dimana ada saatnya terjadi demotivasi lalu sampai akhirnya kita dapat berpikir bagaimana menyelesaikan sebuah masalah. “Demotivasi ini menjadi proses pembelajaran. Saat adanya demotivasi ini lalu kemudian bertanya dan berharap adanya solusi, itu bagus”, jelas Gilang. Pada akhirnya Gilang pun menyimpulkan bahwa menjalani pendidikan S3 ini tidak berbeda dengan menjalani sebuah hubungan. Ada suka dan dukanya.

gilang widya kartika
Bersama teman teman PhD di Lancaster University

Cara Gilang mengatasi demotivasi ini dengan melakukan mindmapping supaya tahu apa akar permasalahannya agar dapat menemukan solusinya. Selain itu, biasanya Gilang melakukan escaping moment, menulis rencana ke depannya, dan mengingat kembali tujuan awal mengambil pendidikan S3 ini. Escaping moment yang disukai Gilang adalah olahraga, musik, shopping dan terutama berdoa. Saran terakhir Gilang terutama di era digital ini, ketika kita sedang demotivasi sebaiknya menjauhkan diri dari social media. Gilang menyampaikan bahwa menurut penelitian di Lancaster University bahwa ada korelasi antara melihat social media dengan merasa depresi. “Karena orang-orang di social media meng-highlight hal-hal yang terbaik di hidup mereka”, jelas Gilang. Kalau kalian penasaran dengan penelitian ini, kalian bisa klik disini. Kalau saran Gilang sebaiknya fokus dengan diri sendiri terlebih dahulu, cintai diri sendiri, jangan menyangkal jika sedang sedih. “Jika semuanya boleh dirangkum, create your own escaping time“, saran Gilang.

Lari berasama teman-teman di Lancaster

“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”. – Surat Kartini kepada Nyonya Abendon, 4 September 1901

Kutipan ini menjadi inspirasi Gilang. Menurutnya ini adalah wejangan bagi kaum perempuan yang bisa dijadikan pedoman bagi kaum perempuan demi sebuah kebahagiaan bagi dirinya sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya, terlebih lagi orang-orang yang tertindas.

Gilang Widya Kartika
Presentasi tentang penelitian di Google

Pada hakekatnya wanita itu juga turut serta berjuang dalam pembangunan. Sudah sepatutnya kalau kita wanita ini muncul dan menunjukkan diri kita tapi tidak lupa akan hak dan kewajiban kita sebagai perempuan”, jelas Gilang. Menurut Gilang, di era emansipasi wanita saat ini, kita kita punya kesempatan-kesempatan yang luar biasa untuk menjadikan diri kita lebih baik dibandingkan perempuan di jaman kolonial.

Gilang menyampaikan bahwa perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. “Kita harus sadar sebagai perempuan kalau kita punya kesempatan dan kebebasan“, jelas Gilang. Menurutnya, seorang perempuan juga mempunyai kebebasan-kebebasan dalam berpikir dan berimajinasi. Gilang juga menyampaikan bahwa sesama perempuan harus saling memotivasi. “Kita juga harus punya kemauan untuk memanfaatkan atau menggunakan kebebasan dan kesempatan tadi”, jelas Gilang.

Perempuan juga harus siap menjadi agen perubahan. Siap akan apa pun yang terjadi dalam hidup kita“, kata Gilang. Gilang juga berharap agar para perempuan tidak bersandar pada paradigma lama dimana menjadi ibu rumah tangga itu cukup. Gilang menyampaikan bahwa dengan adanya kebebasan dan kesempatan, sebagai perempuan harus memperkaya diri dan jangan cepat puas.

“Menjadi wanita yang mandiri itu nikmatnya luar biasa”, seru Gilang. Menurutnya, dengan menjadi wanita yang mandiri, seorang wanita dapat berkontribusi terhadap komunitas. Gilang berharap agar para perempuan dapat saling berkontribusi dalam memajukan kesejahteraan perempuan Indonesia.

gilang widya kartika
Presentasi dengan kebaya

Bicara soal pendidikan dan perempuan, menurut Gilang, memiliki pendidikan yang tinggi adalah penting bagi seorang perempuan. Bukan untuk akhirnya sok jago dan merendahkan kaum laki-laki. Sebaliknya, menjadi perempuan berpendidikan itu berarti kita siap menjadi teman yang bisa diajak diskusi. Dalam sebuah keluarga tidak lagi zamannya, laki-laki sendirian membangun keluarganya. Perempuan berpendidikan bisa menghadirkan diskusi dalam keluarganya. Bukan melulu dominasi laki-laki dalam berkeluarga.

Sudah eranya keluarga dibangun dengan diskusi dua kepala, dan cinta saja memang benar tidak cukup. Menurut Gilang, penting untuk seorang perempuan memiliki wawasan yang luas, karena dengan begitu dia bisa membangun cita-cita dengan keluarganya, bukan hanya saling cinta saja. Hidup yang semakin keras, bila tidak tahu arah dan tujuan ke depannya akan membuat kita mudah tergoda kesana-kemari. Menurut Gilang, pendidikan tinggi juga penting untuk bisa membentuk kepribadian. Dengan isi kepala yang cukup dan tahu tata krama yang baik, seorang perempuan bisa diterima keberadaannya. Berpendidikan satu hal, namun tahu sopan santun dan bisa menghargai orang lain itu juga penting. Tidak akan dipandang gelar seseorang bila tidak bisa bertutur kata santun.

Akhir kata dari Gilang, “balik lagi kepada tadi kutipannya RA Kartini kita bisa berjuang, kita bisa menderita, kita bisa mengembangkan diri kita sendiri tapi bukan untuk hal yang egois, bukan untuk lagi lagi aku aku aku, tapi untuk mereka dan untuk kita“, pesan Gilang.

note: Terima kasih Gilang sudah berbagi kisah melalui blog saya. Semoga kisah ini menjadi inspirasi buat para perempuan Indonesia dimana pun kita berada.

You may also enjoy:

2 Comments

Post a Comment